Kritik ekomomi Islam terhadap ekonomi kapitalis sekuler Adam Smith
Adam Smith vs. Ekonomi Islam
Perbandingan dan Kritik: Adam Smith versus Ekonomi Islam
Adam Smith dan Ekonomi Islam sama-sama membahas cara manusia mengelola sumber daya. Namun, di balik persamaan permukaan, terdapat jurang filosofis yang dalam yang membedakan keduanya secara fundamental.
Persamaan dan Titik Temu
Sebelum masuk ke kritik, penting untuk mengetahui bahwa ada beberapa titik temu yang sering disalahpahami:
Pengakuan Mekanisme Pasar
Keduanya mengakui bahwa mekanisme penawaran dan permintaan adalah cara yang efisien untuk mengalokasikan barang dan jasa.
Hak Milik Pribadi
Keduanya mengakui hak individu untuk memiliki properti.
Motivasi Keuntungan
Keduanya memandang bahwa mencari keuntungan adalah insentif alami dan sah dalam aktivitas ekonomi.
Namun, di sinilah persamaan berakhir. Bagi Ekonomi Islam, semua hal di atas diatur dalam bingkai etika dan tujuan yang sangat berbeda.
Kritik Utama Ekonomi Islam terhadap Pemikiran Adam Smith
1. Landasan Filosofis: Antroposentris vs. Teosentris
Adam Smith (Antroposentris)
Pemikirannya berpusat pada manusia dan sekuler. Tujuannya adalah kemakmuran material (*wealth*).
Ekonomi Islam (Teosentris)
Landasannya berpusat pada Tuhan. Tujuannya adalah *Falah* (kesejahteraan holistik dunia dan akhirat).
2. "Tangan Tak Terlihat" vs. "Tangan Tuhan yang Terlihat"
Adam Smith (Invisible Hand)
Individu egois yang mengejar kepentingannya sendiri secara ajaib akan menciptakan kebaikan bagi masyarakat. Proses ini amoral dan otomatis.
Ekonomi Islam (Syariah)
Menekankan adanya seperangkat aturan dan etika (syariah) yang jelas dan wajib diikuti untuk memastikan pasar berjalan secara adil.
3. Kepentingan Diri vs. Keseimbangan dengan Maslahat Umum
Adam Smith (Self-interest)
Kepentingan diri adalah bahan bakar utama kemajuan ekonomi.
Ekonomi Islam (Maslahah)
Kepentingan pribadi tidak boleh bertentangan dengan kemaslahatan umum. Adanya instrumen seperti Zakat, Infak, dan Wakaf.
4. Peran Negara: Penjaga Malam vs. Penjaga Moral dan Keadilan
Adam Smith (Laissez-faire)
Peran negara minimal, hanya sebagai "penjaga malam" yang melindungi hak milik dan menegakkan kontrak.
Ekonomi Islam (Aktif & Proaktif)
Negara wajib menegakkan keadilan sosial, melarang riba, gharar, maysir, dan menjamin kebutuhan dasar warga.
5. Konsep Kekayaan: Kepemilikan Absolut vs. Amanah
Adam Smith (Milik Absolut)
Kekayaan adalah milik absolut individu yang diperoleh melalui pasar.
Ekonomi Islam (Amanah)
Harta adalah milik Allah SWT, dan manusia hanyalah pemegang amanah yang memiliki tanggung jawab.
Kesimpulan
Secara ringkas, jika ekonomi Adam Smith bertanya, "Bagaimana cara memaksimalkan kekayaan dengan asumsi manusia itu egois?", maka Ekonomi Islam bertanya, "Bagaimana cara mengelola sumber daya sebagai amanah dari Tuhan untuk mencapai kesejahteraan bersama yang berkeadilan di dunia dan akhirat?"
Kritik dunia Islam bukanlah pada efisiensi pasar, melainkan pada kekosongan spiritual, absennya keadilan distributif, dan legalisasi praktik-praktik eksploitatif dalam sistem kapitalis.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar