UMKM, UKM dan Korporasi, bagaimana profil mereka di depan kreditur?
Struktur Unik Pasar Kredit Indonesia
Sebuah visualisasi tentang bagaimana 99% pelaku usaha hanya menyerap sebagian kecil dari total dana perbankan, sebuah fenomena "Piramida Terbalik".
Dua Sisi Pasar: Jumlah Pelaku Usaha vs. Nilai Penyerapan Kredit
Komposisi Berdasarkan Jumlah Unit Usaha
Segmen UMKM secara kolektif membentuk lebih dari 99% dari total unit usaha di Indonesia, sebuah lautan luas bagi perekonomian.
Komposisi Berdasarkan Penyerapan Kredit
Namun, dari sisi nilai, segmen Korporasi yang jumlahnya sangat sedikit justru menyerap porsi dana perbankan yang paling dominan.
Mengenal Setiap Segmen Peminjam
Mikro
Hingga Rp 500 Juta
Unit usaha. Sangat rentan terhadap guncangan ekonomi dengan pencatatan keuangan yang masih informal.
Kecil
s.d. Rp 2,5 Miliar
Unit usaha. Mulai memiliki struktur bisnis namun masih rentan terhadap perubahan pasar.
Menengah
s.d. Rp 50 Miliar
Unit usaha. Memiliki manajemen lebih profesional dan posisi pasar yang kuat dan stabil.
Korporasi
> Rp 50 Miliar
Unit usaha. Dikelola profesional dengan tata kelola yang baik dan laporan keuangan auditan.
Paradoks Risiko dan Imbal Hasil
Segmen dengan risiko tertinggi (UMKM) seringkali menawarkan margin keuntungan yang lebih besar bagi bank, sementara segmen korporasi yang lebih aman menawarkan margin yang lebih tipis.
Fokus Analis Kredit: Dua Dunia yang Berbeda
Analis Kredit UMKM
Analisis Kualitatif & Karakter
Memahami integritas dan reputasi pemilik.
Verifikasi Arus Kas Riil
Mencocokkan rekening koran dengan aktivitas bisnis.
Kunjungan Lapangan (OTS)
Melihat langsung skala dan realitas usaha.
Analis Kredit Korporasi
Analisis Laporan Keuangan Auditan
Membedah data finansial yang kompleks dan terstruktur.
Analisis Industri & Grup Usaha
Memahami posisi kompetitif dan struktur korporasi.
Analisis Covenants & Struktur Kredit
Menentukan syarat dan ketentuan pinjaman yang rumit.
Tantangan Inklusi Keuangan
Porsi kredit untuk UMKM masih berada di bawah target regulator, menunjukkan adanya kesenjangan akses pembiayaan yang perlu dijembatani oleh inovasi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar